Sabtu, 24 Juli 2021

Lolos Dari Letusan Merapi

 

MERAPI TAK PERNAH INGKAR JANJI, KARENA YANG INGKAR JANJI IKU AWAKMU


        Cerita dimulai tanggal 8 Mei 2018 malam ketika teman saya si Fajar mengirim pesan WA mengajak untuk mendaki Gunung Merapi 2930 MDPL bersama Rangga dan Reza. Dengan persiapan yang cukup kemrungsung (tergesa-gesa) dan sedikit jelas aakhirnya kita langsung bergegas dari Genuk, Semarang menuju Basecamp pendakian Merapi via New Selo, Boyolali pada 9 Mei 2018 waktu maghrib. Saya berboncengan dengan Fajar naik Honda Nella Kharisma yang jika tiap rodanya berputar, selalu ngajak bergoyang sedangkan Reza nebeng Rangga naik Honda Vario Barunya (Anyar Gress). Kami sampai di basecamp hampir tengah malam, karena kita sempet linglung kemana jalan menuju basecamp New Selo. 

    Ketika sampe di basecamp, kami langsung melakukan registrasi seperti pada umumnya. Pihak basecamp, penduduk lokal, dan pendaki lainnya bersikap biasa saja. Waktu itu belum ada yang aneh dari Gunung Merapi yang akan kita daki. Tanpa berlama-lama, saya dan rombongan pun langsung tancap gas menuju puncak Merapi 2930 mdpl. 

    "Merapiiiii kami datang!!!"


        Pendakian berjalan lancar tanpa ada rintangan yang berarti hingga kami sampai di Pasar Bubrah dan mendirikan tenda disana untuk beristirahat. Pagi harinya tanggal 10 Mei 2018, keajaiban terjadi. Di Gunung Merapi inilah, saya mendapati golden sunrise terciamik yang pernah saya temui. Kemudian setelah menikmati sunrise, kami memasak dan membikin kopi sambil menikmati pemandangan Gunung Merbabu yang sangat gagah. Tak lama kemudian, kami summit menuju puncak Merapi 2930 mdpl.


        Medan yang dilalui menuju puncak, merupakan medan yang berpasir. Jalan dua langkah, mundur satu langkah atau gak kaki tenggelam ke dalam pasir. Dengan waktu kurang lebih satu jam, akhirnya kami sampai di Puncak CCTV Gunung Merapi 2930 mdpl. Sebenarnya ada puncak yang lebih tinggi dan ajib banget pemandangannya, yaitu Puncak Tusuk Gigi dan Puncak Garuda. Namun, kami tak memiliki cukup nyali untuk sampai kesana. Kedua puncak tersebut, sangat berbahaya medannya dan terakhir kami mendengar ada pendaki terpeleset ke dalam kawah saat berselfi di Puncak Garuda atau Puncak Tusuk Gigi saya lupa. 

        Saat kami di Puncak CCTV Gunung Merapi, saya mengamati sekeliling termasuk kawah Merapi yang sangat besar dan bikin bulu kuduk sedikit merinding, kalo kecebur kesono gimane coba???. Saya mengamati kawah Merapi mengeluarkan asap kecil layaknya gunung api yang masih aktif dan itu normal. Gak ada tanda-tanda kalo Merapi mau batuk atau gimane. Semua normal dan lancar sampe saya dan temen-temen turun ke Pasar Bubrah tempat kami mendirikan tenda. 


        Tak lama kemudian, saya bersama temen-temen membongkar tenda dan bergegas turun menuju basecamp. Selama perjalanan turun, kami ketemu banyak pendaki yang sedang naik. Ada pendaki lokal dan ada juga pendaki dari luar negeri. Btw di Merapi ini, saya pertama kali ketemu bule naik gunung dan sok ngajak ngomong bulenya plus tidak lupa ngajak foto. 

        Oke balik lagi ke topik,. 

        Pendakian Gunung Merapi kali ini alhamdulillah berjalan lancar sampe turun ke basecamp sebenarnya (rumah). Saya dan temen-temen merasa excited untuk menceritakan perjalanan kami ke orang-orang. Tetapi, perasaan kami berubah jadi dag dig dug serrr setelah mengetahui bahwa Gunung Merapi mengalami letusan freatik pada 11 Mei 2018 pagi. Saya mengetahui kabar itu dari temen saya SMK yang bernama Cahyomed dan awalnya gak percaya karena kemarin waktu di puncak semuanya baik-baik aja.

        Pada saat Cahyomed ngabarin itu saya lagi kuliah dan masuk ke ruang dosen karena sesuatu hal. Waktu didalam ruang dosen, saya lihat berita  di TV kalo Merapi meletus. Ternyata Cahyomed gak bohong. Perasaan saya langsung gak karuan, pikiran bingung, seraya bersyukur karena udah pulang dan bisa kuliah lagi. Saya juga kepikiran sama bule yang tak ajak foto bagaimana keadaannya bersama pendaki lainnya yang masih di area Puncak Merapi. Kemudian saya lihat di instagram ada salah satu rombongan pas lagi masak, kawah Merapi mengeluarkan asap. Asli saya merinding nulis ini. Kakak saya juga nelpon dengan khawatir tanya apa saya masih di Gunung Merapi dan saya jawab dengan sedikit tenang "saya udah masuk kuliah lagi". Waktu saya pulang kuliah, saya cerita ke Bapak kalo Merapi meletus. Ehhh malah dilarang naik gunung lagi. Ya maklum sih, orang tua pasti khawatir. 


        Semenjak letusan freatik 11 Mei 2018 itu, pendakian Gunung Merapi tutup sampe sekarang. Gak tahu deh kapan lagi dibukanya. Diri ini merasa beruntung bisa mendaki Gunung Merapi sampe ke puncaknya. Dan yang terpenting saya juga bersyukur bisa lolos dari letusan Merapi tersebut. Kagak kebayang deh kalo saya belum turun dari puncak terus pas Merapi batuk, sempet panik apa kagak. 

        Meskipun begitu, saya kagak pernah kapok untuk mendaki Merapi lagi....

#GunungMerapi #MerapiMeletus #LetusanFreatik #Gunung #PendakiIndonesia #Pendaki
        



Lolos Dari Letusan Merapi

  MERAPI TAK PERNAH INGKAR JANJI, KARENA YANG INGKAR JANJI IKU AWAKMU           Cerita dimulai tanggal 8 Mei 2018 malam ketika teman saya si...